Baru tau klo sakit di telinga pas naek pesawat tu namanya Barotrauma…Pernah ngrasain juga nggak? Klo lagi flu, hidung meler, ingusan or umbelen dalam bhs jawanya, trus lagi naek pesawat tiba2 telinga ini terasa sakit kaya ditusuk ma pisau smp nembus ke belakang kepala dan pisaunya dibiarin nancep disitu plus ditahan ma batu kali yang gede bgt…(kok kayanya hiperbola bgt yah, tp emang sumpah Masya Allah sakitnyah…)

Ini ada artikel yang saya dapat dari balipost yang disampaikan oleh dr. ossyris abu bakar mengenai Barotrauma, mungkin ada yg pernah bs bercita2 jadi dokter THT tp ga kesampean, artikel ini mungkin bisa`membantu, moggo disimak….

Anda yang pernah atau sering bepergian dengan pesawat terbang tentu pernah mengalami salah satu atau lebih keluhan seperti rasa penuh, kurang mendengar atau budek, tidak nyaman, mendengar suara sendiri (autofoni), telinga mendenging (tinitus), vertigo (perasaan berputar), nyeri, atau perasaan ada air dalam telinga. Apa sesungguhnya yang terjadi?

SEJUMLAH keluhan tersebut biasanya timbul sesaat setelah pesawat lepas landas atau akan mendarat. Secara medis, keadaan ini dikenal sebagai barotrauma atau aerotitis. Bagaimana mekanisme terjadinya, upaya pencegahan, pengobatan, serta komplikasi lebih lanjut yang mungkin terjadi?

Barotrauma timbul akibat adanya perubahan tekanan yang tiba-tiba di luar telinga tengah, sewaktu di pesawat terbang, yang menyebabkan tuba eustachius gagal untuk membuka. Terjadinya perbedaan tekanan udara inilah sebagai pemicu beragam keluhan seperti yang telah disebutkan tadi. Untuk memperkecil kemungkinan terjadinya aerotitis, amatlah penting dipikirkan suatu upaya untuk menyamakan tekanan udara dalam kavum timpani dan udara luar. Secara alami, fungsi ventilasi ini telah dijalankan oleh suatu saluran berbentuk corong yang membuka ke arah nasofaring dan kavum timpani yang dikenal sebagai tuba eusthacius.

Akan tetapi, ada beberapa keadaan yang dapat mengganggu proses terbukanya tuba yang pada anak-anak cenderung kedudukannya lebih horizontal, misalnya infeksi pada tenggorokan atau hidung, radang adenoid, atau tumor nasofaring. Saluran sepanjang 31-38 mm pada orang dewasa dan hanya 17,5 mm pada anak-anak tersusun dari jaringan tulang rawan dan tulang. Beberapa fungsi penting yang dilakukannya selain berperan untuk ventilasi antara lain drainase sekret, menghalangi masuknya sekret ke telinga tengah, serta menyeimbangkan tekanan udara pada seluruh sisi membran timpani (genderang telinga).

Mengapa barotrauma umumnya terjadi sesaat setelah pesawat take off atau menjelang landing? Pada saat pesawat mulai naik, akan terjadi perubahan tekanan udara yang tiba-tiba, dimana akan timbul tekanan positif pada rongga telinga tengah dan negatif pada bagian luar membran timpani. Hal ini akan menimbulkan penonjolan keluar dari genderang telinga (bulging), sedangkan saat pesawat akan mendarat akan terjadi keadaan yang sebaliknya — akan timbul tekanan negatif pada liang telinga tengah, positif pada bagian luar genderang telinga akibatnya terjadi retraksi-penarikan ke arah dalam. Di sinilah sangat dibutuhkan fungsi normal tuba eusthacius untuk dapat mengalirkan udara yang terperangkap di telinga tengah keluar melalui nasopharynx.

Cara Mencegah
Ada beberapa hal sederhana yang dapat coba dikerjakan untuk mencegah terjadinya barotrauma. Antara lain dengan melakukan gerakan menguyah dengan atau tanpa makanan. Gerakan menelan makanan, minuman, atau air liur. Pada bayi menyusui akan membantu membukanya tuba secara alami sehingga dapat mencegah terjadinya barotrauma. Menghirup aroma minyak kayu putih atau menthol, melakukan valsava manuver (meniupkan udara dengan keras dari hidung sambil hidung dipencet serta mulut ditutup), atau frenzel manuver (sama seperti valsava manuver tetapi disertai dengan menelan ludah).

Bagi seseorang yang sedang menderita flu disarankan untuk menggunakan decongestan atau antihistamin yang dapat membantu mengurangi edema mukosa hidung-faring yang tentu saja amat erat kaitannya dengan upaya terbukanya tuba eustahacius secara optimal.

Selain beberapa hal di atas, seseorang yang tengah menderita infeksi telinga tengah dianjurkan untuk tidak melakukan perjalanan sampai infeksinya benar-benar sembuh. Upaya sederhana lain yang dapat dicoba dikerjakan dengan membersihkan kotoran telinga sebelum melakukan perjalanan untuk meminimalkan rasa kurang nyaman akibat sumbatan pada telinga.

Saat ini telah pula beredar suatu sumbat telinga yang dilengkapi dengan alat pengatur tekanan udara yang berfungsi untuk mengantisipasi terjadinya perubahan tekanan udara yang tiba-tiba. Alat ini dikenal sebagai ear planes. Di Australia, alat ini dipasarkan dengan harga $AUD 16 dan dapat dengan mudah dibeli di klinik perjalanan, bandara, atau apotek.

Timbul Komplikasi
Lantas, komplikasi apa yang mungkin ditimbulkan oleh barotrauma? Cairan dalam kavum timpani yang berasal dari ruptur kapiler mukosa atau pembuluh darah akan terperangkap. Kerusakan genderang telinga dengan berbagai degradasi kerusakannya mulai dari peradangan ringan sampai perforasi (robek) disertai cairan yang mengalir dari rongga telinga tengah dapat timbul sebagai akibatnya.

Lalu, bagaimana upaya mengatasi komplikasi tersebut? Apabila cairan yang bercampur darah menetap di telinga tengah sampai beberapa minggu, dianjurkan untuk dilakukan tindakan miringotomi (sayatan kecil pada genderang telinga) untuk mengalirkan sekret yang terperangkap di dalamnya. Bila perlu, dapat disertai dengan pemasangan pipa ventilasi (grommet). Jika telah terjadi perforasi dari membran timpani (genderang telinga), amatlah penting diperhatikan untuk tetap menjaga agar telinga tetap kering serta pemberian antibiotika secara oral.

Semoga melalui beberapa upaya pencegahan terjadinya barotrauma seperti yang sudah diuraikan tersebut, Anda yang akan melakukan perjalanan dengan pesawat terbang dapat menikmati kenyamanan selama dalam penerbangan.

dr. ossyris abu bakar